Feed on
Posts
comments

Sekarang ini gw sedang tergila-gila memainkan Rune Factory (the Fantasy Harvest Moon). Kendati ini game sudah termasuk berumur (sudah setahun lebih semenjak diluncurkan) gw masih asyik memainkannya. Dulu memang gw pernah memainkannya - tetapi karena keluarnya game-game baru lain gw jadi mandeg memainkannya (I blame Jeanne D’Arc yang membuat gw berkhianat dari Rune Factory!).

Sekarang, karena sudah engga ada game lain yang menarik untuk dimainkan, gw kembali memainkan Rune Factory gw dari awal. Yang membuat Rune Factory ini berbeda dan menarik dari Harvest Moon lain, menurut gw, adalah sistem battle yang dimasukkan ke dalam game ini. Sekarang, selain bercocok tanam, kita juga bisa asyik menjelajah ke dalam gw berburu monster dan menaikkan level kita. Gw tadinya pesimis dengan Neverland yang tidak pernah menggarap sistem Action RPG sebelumnya. Tak dinyana, kontrol dalam Rune Factory cukup mulus dan battle di dungeonnya cukup adiktif.

Tidak hanya menyediakan delapan dungeon untuk dijelajahi (kalau ditotal, mungkin memerlukan waktu hampir dua tahun / delapan musim untuk menjelajahi semua dungeon tersebut), Neverland juga menyediakan sistem pet monster. Apabila di Harvest Moon biasa peliharaan kita juga ‘biasa‘ seperti Anjing, Sapi, Domba, dan Ayam, maka di dalam Rune Factory kita bisa memelihara sampai 68 jenis monster yang kita temui di gua. Monster-monster itu ada yang berfungsi sebagai livestock, ada yang bisa membantu kita, dan ada juga yang bisa menemani kita berpetualang di dungeon.

Sistem sosialnya pun mengalami perombakan yang cukup besar. Sekarang ada 11 gadis yang bisa anda kejar - dengan cara yang berbeda-beda! Tidak seperti Harvest Moon biasa yang anda cukup jalankan ritual ‘setiap hari beri kado‘ dan gadis itu akan menjadi milik anda. Gadis-gadis di Rune Factory ini jauh lebih sulit untuk di’takluk‘kan. Anda harus menaikkan dua level (instead of mengubah warna hati) sang gadis sampai penuh (Friendship dan Love)supaya gadis itu mau menikah dengan anda. Setelah sang gadis maupun, anda masih harus menjalani prosedur tradisional Harvest Moon (memiliki rumah besar dengan ranjang double-bed) dan menjalani prosedur unik bagi tiap gadis. Ada gadis pemimpi yang maunya mendapatkan batu putih, ada gadis gila monster yang menghendaki anda menangkap sejumlah monster tertentu, ada juga gadis kutu buku yang ingin anda propose kepadanya sesuai dengan tata-cara di buku kisah favoritnya, ada bahkan gadis yang sukanya makan ikan sehingga anda harus menangkap ikan legendaris supaya dia mau menikah dengan anda!

In short? Much more compelling, much more real character, dan makin menantang buat gw taklukkan.

Tapi tentu saja, sebagai sang pria sejati (di dunia maya), saya sukses dalam menaklukkan kesebelas gadis yang ada itu. Celakanya, gw justru kebingungan sekarang dengan gadis mana yang harus gw pilih?

1. Mist: Heroine utama. Dalam cerita kanon, ialah yang nantinya menjadi pasangan anda. Dia yang pertama kali menemukan diri Hero yang amnesia dan hampir pingsan di awal game.

2. Rosetta: Saingan dari Mist sekaligus orang yang tiap hari mengambil hasil pertanian anda. Ayahnya juga menjual seed-seed untuk anda tumbuhkan di pertanian anda. Bertekad untuk menikah sebelum Mist menikah.

3. Mei: Gadis yang datang dari negeri jauh dan suka menyendiri. Tujuan kedatangannya ke Kardia Village tidak seberapa jelas. Ia juga tidak terlalu suka membaur.

4. Sharron: Kalau Mei tidak suka membaur, maka Sharron adalah gadis nyentrik yang tidak pernah muncul di desa selain malam hari saat ia harus tidur. Hari-harinya ia habiskan di ruin-ruin mencari artifak kuno.

5. Bianca: Anak dari konglomerat ternama di Kardia, dia sosok gadis manja yang cengeng. Selain itu ia juga angkuh dan memandang remeh hadiah apapun yang anda berikan kepadanya mengingat ia memiliki segalanya. Tetapi di balik itu, dia merasa kesepian tinggal di desa Kardia yang ia anggap ‘terbelakang’.

6. Tabatha: Sosok gadis elf yang menjadi pelayan di rumah Tabatha. Ia sering disuruh Tabatha melakukan ini itu. Tabatha adalah gadis elf yang mengimpikan terjadinya kedamaian antara seluruh makhluk. Karena itu ia amat senang dengan para monster liar.

7. Major Lynette: Seorang jenderal musuh yang nantinya bertobat setelah melihat kesederhanaan kehidupan di Kardia. Ia malahan menjadi tertarik akan Kardia dan memutuskan untuk tinggal di sini.

8. Tori: Seorang gadis kutu buku yang menghabiskan hari-harinya di dalam perpustakaan, Tori bermimpi bahwa suatu saat pangeran impiannya akan muncul dari dalam buku dan memberikan lamaran romantis kepadanya.

9. Lara: Sang gadis perawat yang baik dan selalu membantu dokter setiap hari. Mungkin itu datang juga dari sifat ayahnya yang adalah seorang pastur di gereja Kardia. Loh tunggu, kok pastur bisa punya anak ya? Oops, melenceng dari topik.

10. Melody: Kalau anda lelah dan capek usai melawan para monster, datang saja ke rumah hot springnya Melody. Dijamin tenaga anda pulih seperti sedia kala! Melody juga sangat ‘mencintai’ orang yang sering mandi!

11. Felicity: Anak dari Major pemilik rumah, Felicity terkena penyakit misterius yang mungkin tidak bisa disembuhkan. Kendati begitu, ia tetap bersemangat hidup tinggi dan membantu desa sebagaimana yang ia bisa!

Gw sama sekali engga tertarik pada Mei (terlalu aneh dan susah didapat), Sharron (lebih aneh lagi), Tabatha (too… ‘dark’?), Major Lynette (Uf, cewe dengan penutup mata bisa dicoret dari daftarku), Tori (ga suka kutu buku), dan Melody (witch cosplay? big no-no).

Sisanya yang masuk dalam pertimbangan gw adalah:
- Bianca: I know she’s a bitch. But gw bisa mengerti perasaannya yang tinggal di ‘desa yang ga punya apa-apa‘.
- Rosetta: She’s cute, dan dia memiliki kesamaan sifat yang mencolok dengan Mira.

Sementara yang membuatku pusing tujuh keliling mengenai siapa yang harus kunikahi adalah ketiga gadis yang tersisa:

  1. Lara: perawat yang lemah lembut, baik hati, dan selalu memperhatikan kesehatan gw? Totally yes. yes. yes. And not to mention that she’s cute.
  2. Felicity: Ada daya tarik tersendiri di balik sosoknya yang lemah dan penyakitan. Apa ini namanya insting kecowokan yang hendak melindungi makhluk yang lebih lemah?
  3. Mist: She’s the least that I love… but she’s also the one that I owe my life too (I’m even farming in HER farm), I kinda feel bad if I don’t repay it by marrying her… Sigh… But she kinda grow on me over time.

Jadi, ada yang mau memberi usulan mengenai gadis mana yang harus kunikahi?

PS: I did NOT just ask a suggestion for a virtual dating with my NDS right? Right? Right?



God, I’m pathetic… >_<;;;

Part 3: My Dream, My Fairy Tale

‘All the tears that haunt my past
You promised it’ll be better tomorrow
Play that song
You and I listened to
And let it gently ease our pain

“Tonight, I Feel Close to You” by Mai Kuraki & Sun Yan Zi

Kendati penuh dengan kenangan buruk di Solo, itu tidak berarti semuanya juga hanya kenangan buruk semata lo. Gw bertemu dengan banyak teman juga di Solo (walau yang kini tersisa bisa dihitung dengan jari), sehingga rasanya berat sekali meninggalkan Solo untuk pergi ke Jakarta yang rasanya merupakan tempat asing sekali bagiku… dan kata-kata nyokap maupun teman-teman gw sama sekali tidak membantu gw untuk merasa tenang di sana.

Ingat Nis, di sana ada banyak orang jahat. Mereka bukan seperti orang Solo yang baik-baik… Kalau kamu diajak ke klab malam, JANGAN MAU. Nanti mereka bakalan menculik kamu dan minta uang tebusan ke mama!
Jangan sekali-kali ngundang teman ke dalam rumahmu Nis… Hati-hati sekali. Nanti tahu-tahu akan ada pesta sex dan pesta nyabu di dalam rumah dan kalian akan digerebek polisi!
Hati-hati dengan WC Nis. Di sana sering kali orang tahu-tahu ditusuk dengan obat bius dan kamu bisa jadi sakaw. Nanti setelah sakaw kamu bakalan nyuri uang mama dan beli obat terlarang! Apalagi anak-anak dari Binus International pasti kaya-kaya. Mereka pasti suka obat terlarang!

Gw ketakutan. Jakarta kok seram banget ya? Dan begitu masuk ke dalam Binus International, gw makin ketakutan karena merasa nyokap gw benar. Pertama-tama masuk walau gw kenalannya dengan Bams (ya Bams-nya Samson itu - dia rendah hati lo) dan Rian yang termasuk anak ‘normal‘, ketakutan gw segera terbukti. Di kelas PBC muncullah sosok-sosok garang dan sangar macam FelixDon-DonIoPopsAndiBram… Sisanya yang engga terlihat terlalu garang pun terlihat jenius macam Agus dan Ferdi. Hanya satu pikiran yan melintas di benak gw saat itu.

Kenapa oh kenapa gw engga bisa masuk ke kelas samping yang kelihatannya jauh lebih normal?

Karena paranoid itulah gw selama di semester satu pun tidak mau bergaul banyak dengan anak-anak di kelas gw. Gw hanya berani berkumpul dengan Harry, Rian, dan segelintir anak lain yang gw pikir bukan anak ‘rusak‘. Gw kesepian, ga berani ke WC sendirian dan merasa kehilangan teman-teman gw di Solo, yang sekalipun sering mengejekku paling tidak gak akan pernah memberi gw heroin atau syabu-syabu kalau ke WC…

Hiburan gw ketika itu hanyalah seorang gadis dari kelas PAC yang sosoknya diam-diam kukagumi dari jauh. Kebetulan gadis itu selalu bermain-main dengan Fan-Fan (Fan-Fannya ngetop, jadi gw otomatis kenal sama dia, tetapi gadis yang di sampingnya itulah yang menjadi pusat perhatian gw). Belakangan gw tahu nama gadis itu adalah Elisa. Dan memandangi sosoknya dari kejauhan merupakan satu-satunya kebahagiaan gw di semester pertama itu.

Yah, setidaknya ada satu gadis yang cantik di kampusku deh” –> ini pikiran gw SAAT ITU.

Semester kedualah semester yang sebenarnya pertama kali membuka mataku bahwa Jakarta ternyata engga seseram itu. Ketika UTS semester kedua terjadi, ternyata nilai gw benar-benar jelek sekali. Semester pertama memang sulit buat gw beradaptasi, tetapi semester kedua gw benar-benar kacau balau karena gw sulit mengikuti pelajaran di kampus. Di saat itulah gw berencana mengundang Harry ke rumah gw saat UAS semester kedua. Harry yang memang adalah salah seorang manusia terbaik yang pernah muncul di dunia (beneran lo!) tentu saja setuju. Tetapi saat itulah muncul masalah.

Mendadak Pops, Io, Bram, Felix, dkk juga mau ke rumah gw buat belajar bareng. Gw pucat pasi menyadari para gangster mau menginap rumah gw semua. Gw langsung teringat pesan mama jaman dahulu.

Mereka mau nyabu di rumah gw… Mati deh gw… Habis udah gw… Bukan dapat nilai tinggi… Gw pasti dikeluarin dari kampus kalau ketahuan nyabu…

Gw menoleh kepada Harry, memohon bantuan dari Harry. Siapa tahu Harry juga menolak mereka…

Ga apa-apa Den, kan asyik belajar bareng lebih banyak orang!

OH TUHAN, MATI DEH GW!!!

Kekhawatiran pesta syabu-syabu tidak pernah terbukti… sebaliknya, UAS semester dua gw lalui dengan penuh kegemilangan. Nilai gw yang semuanya merah langsung beranjak naik ke daerah atas 80 semua. Dari sana juga gw mendapatkan rival baru dalam diri Bram (rivalitas kita terus berlanjut sampai saat ini lo!), dan rumah gw pun mulai dari saat itu menjadi markas besar anak-anak generasiku berkumpul, bermain, dan belajar bersama. Dan ternyata yang namanya pesta gila-gilaan itu engga separah itu lo! Seluruh kelas kita berpesta-pora dua kali (ke Puncak dan ke Anyer) yang kita lalui dengan penuh kebahagiaan dan kebersamaan. Gw bahkan minum-minum sampai mabuk (dan video mabuknya gw masih dipegang oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab) bersama dengan anak-anak sekelasku. Itulah pertama kalinya gw merasa bahwa anggapan nyokap dan teman-teman gw di Solo salah mengenai Jakarta… karena Jakarta rasanya tidak semengerikan itu.

Dan di saat gw sudah mulai menemukan teman-teman baru itulah, gw mulai bisa beranjak ke masalah yang lain memasuki semester ketiga. Semester ini gw sambut dengan sorakan penuh kemenangan ketika gw mendapati bahwa gadis yang semenjak semester pertama gw perhatikan dipindah masuk ke kelasku. Tentu saja, gw sama sekali tidak pernah berani mengajak bicara Elisa (dia dipanggil juga oleh teman-temannya dengan ‘Sasa‘). Di mata gw SAAT ITU, tidak ada gadis di dunia ini yang lebih sempurna daripada Elisa. Dia bermain piano dengan lembut (gw habis nonton My Sassy Girl saat itu, jadi kesengsem dengan cewe yang bisa main piano), tubuhnya ramping nan gemulai, serta wajahnya pun cantik menawan. Gw masih ingat terlibat pembicaraan seperti ini dengan teman gw.

Emangnya yang lu suka dari Sasa apa sih Nis? Dia ga jelek sih, tapi ga menonjol juga kan? Biasa aja ah… Udah gitu dia suka tidur lagi di kelas” kata teman-temanku yang kutunjuki foto-foto Sasa (gw ambil secara diam-diamĀ  dari hape, flash disk, dan friendsternya dengan kemampuan gw sebagai stalker –> memalukan).
Biarin! Ga penting buat kalian dia cakep atau engga. Buat gw dia cewe paling cakep di dunia. Fotogenik. Manis. Ramah. Menawan. Ahhhh… sayang dia sudah punya cowo… Ahhhh!!!” kataku saat itu sambil pusing sendiri; sehingga teman-temanku cuma bengong dan ga tahu mau menanggapi apa lagi.

Lalu hari besar itu datang… Hari di mana Sasa mendadak saja tanpa ada badai, tanpa ada angin, tanpa ada hujan bertanya kepadaku:

Nis, kamu tinggal di daerah Muara Karang?” tanyanya mendadak padaku.
… I… Iya…” Jelas saja mendapatkan pertanyaan dari gadis secantik itu membuat gw tergagap-gagap. Untung saja walau Sasa itu cantik, dia sedikit telmi sehingga tidak menyadari gw yang tergagap-gagap menjawab pertanyaannya itu.
Ah! Begitu ya, kalau begitu bisa antar aku ke tempat aku mengajar piano? Juga di Muara Karang kok!” pintanya padaku.
Oh, ya ga masalah” kataku dengan berusaha stay cool. Gw takut kalau menjawab tergagap-gagap lagi gw bisa dikira aneh oleh gadis ini. Jadi sebisa mungkin gw berusaha mempertahankan nada suara gw tetap tenang.

Tentu saja gw sebenarnya sudah tahu dia mengajar piano di Muara Karang, bahkan sempat ke sana (walau cuma berputar mengelilingi kompleknya dan ga berhenti) untuk mensurvey dan cari tahu di mana sebenarnya Sasa mengajar Piano. Tapi gw juga harus pura-pura ga tahu supaya ga dikira stalker ama Sasa.

Wahhh, thanks ya Nis…” katanya sambil kembali melanjutkan tidur siangnya di kelas.

Gw menyeret Ferdy yang adalah temanku ke WC setelahnya.

Fer…” kata gw dengan bibir bergetar saking senangnya “DIA MINTA GW NGANTAR DIA FERRRRRRR! DIA AKHIRNYA TAHU ADA ORANG BERNAMA DENNIS DI KELAS INIIII!!! HOREEEE! HOREEEEE!!!
Iya… gw tahu” jawab Ferdy datar.
AKHIRNYA FERRRR… Huwaaa… gw senang sekali…” kata gw sambil memeluk Ferdy (yang berusaha berkelit karena takut kalau kelihatan sama orang bisa dikira gay). Kalau ga ada Ferdy, gw berpikir-pikir mungkin air mata kebahagiaan itu sudah mengalir di mata gw…

Gw tidak sabar menunggu pulang hari itu, dan gw membawakan mobil sehati-hati mungkin membawa Sasa pulang. Ketika mobil sedikit menghantam polisi tidur saja gw memaki diri gw sendiri dalam hati “GOBLOK lu Nis! Bawa seorang putri itu harus hati-hati! Dia kan beda dengan bawa Ferdy atau bawa Ganda! Jangan lu samain gaya bawa mobilnya!

* * *

Dua tahun kemudian (dan ribuan kisah antara gw dan Sasa yang telah terjadi kemudian dalam kurun waktu tersebut dan menyangkut terlalu banyak nama dan terlalu banyak hal untuk dibeberkan di blog ini)

Nissss!! Antar gw ngelesin piano dongggg!
OGAH! Ngapain gw nganterin lu? Malas man…
CEPAT BAI! ANTER!!!” (mencekik-cekik gw) –> Sasa beneran berubah jadi Sassy Girl.
Aaaa… gw dicekik… GRRRRR!!!!

Setelah itu gw ajak dia dalam ‘perjalanan mengguncang jiwa‘ karena hampir tiap polisi tidur gw sikat, mobil gw gas dan gw rem secara mendadak, dan sepanjang perjalanan dipenuhi dengan suara Sasa yang komat-kamit berdoa, menjerit “AWAS Nisssss!!! Gw belum mau mati sebelum dapat pacar!!!“, dan tawa sinting dan freak “HA HA HA HA” gw yang bergema sepanjang perjalanan. Buat yang lain, tenang aja, cuma Sasa dan Felix kok yang pernah gw ajak menikmati perjalanan ini…






Oh, dan sudahkah gw sebutkan kalau Sasa yang sama itu adalah gadis yang sama yang menjadi sahabat terdekat gw sampai sekarang sekalipun?

This post is dedicated for Sasa. Some of the most beautiful times in my life I spent with you… Cheers, and thanks for our eternal friendship!

Selamat Idul Fitri!!

Kepada Don-Don, Pops, Andi, Dodik, Bea, dan siapapun yang lupa gw sebut tetapi merayakannya…………..

Minal Aidin Wal Faidzin!

Mohon Maaf Lahir dan Batin!!!

The Dark Past (Part 2b of 3)

Part 2: The Dark Night

‘Sweet dreams I do not see
‘Cause darkness scares me
Is it because I’m still fifteen
Or the loneliness in me’

Lullaby for You - Jyongri

Ketika sekarang gw menatap kembali ke masa laluku di SMU, gw kadang terheran-heran sendiri kenapa teman gw belum ‘menghabisi‘ gw untuk tingkah laku gw yang super menyebalkan… Ada beberapa hal yang masih gw ingat seperti:

- Ketika Benny, seorang teman dekatku, tidak mau ke Cell Group karena dia mengalami urusan. Gw menelepon ke rumahnya sambil membentak-bentak dan memaki-maki dia. Kalau dipikir sekarang, apa tingkah lakuku itu tidak sangat memalukan dan sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang anak yang pergi ke gereja?
- Seorang gadis yang sejak lama kusuka jadian dengan orang lain, dan mengalami masalah dengan cowonya itu lalu putus. Dengan seenak perut sendiri gw mengatakan “Syukurin dia putus ama cowonya… Ha ha ha ha“. Kalau dipikir sekarang, apa engga memalukan sih gw? Hanya karena gadis itu ga jadian ama gw - gw ga bisa berbahagia untuknya.
- Ketika Andrew, teman gw, bercanda dengan mengubah foto gw menggunakan Photoshop, gw marah besar dan melabrak dia sampai mendorong dia dan teman-temannya jatuh ke lantai. Kalau dipikir sekarang, itu foto kan sebenarnya cukup lucu juga dan bisa mengundang senyum serta tawa banyak orang.

Dan ada begitu begitu banyak lagi tingkah laku yang membuatku dijauhi oleh teman-temanku dulu. Tidak mengherankan sih. Kalau melihat dan memikirkan diriku lagi saat dulu, kelihatannya aku juga ogah tuh berteman dengan diriku sendiri.

Tapi hal yang paling memalukan yang terjadi dalam kehidupanku di Solo saat itu adalah ketika pengumuman pembagian kelas 3 dilakukan. Nilai gw hanya mencapai 76, yang berarti nilai gw kurang dua poin untuk bisa masuk ke kelas 3IPA. Ketika itu gw merasa sangat terpukul karena masuk ke kelas 3IPA adalah dambaanku. Kenapa masuk 3IPA merupakan dambaanku? Bukan karena gw menyukai pelajaran IPA, tetapi karena menurutku kalau aku masuk ke kelas tersebut maka aku akan bertemu dengan semua teman-temanku.

Maksudnya?

Selama kelas 1 dan 2, kelas gw terbagi menjadi 8 kelas, sehingga otomatis teman-temanku tersebar di kedelapan kelas itu. Gw selalu bermimpi bahwa di kelas 3 nanti (kebetulan semua temanku mengincar posisi di kelas IPA) kita semua akan masuk di kelas yang sama (karena kelas IPA hanya ada dua). Di saat itu, gw berpikir, kita pasti akan menjalin hubungan yang sangat erat. Belajar, bermain dan bergembira bersama…

Dan mimpi itu hancur berantakan begitu saja. Semua temanku berhasil masuk ke kelas IPA. Hanya aku satu-satunya yang di saat itu terbuang ke kelas IPS… IPA was the perfect class without me in it.

Nyokap gw turut panik ketika gw dinyatakan masuk ke kelas IPS. Ia tahu bahwa dalam jangka panjang, masuk ke kelas IPS sama dengan ‘membunuh‘ masa depanku yang ingin masuk jurusan Teknik Informatika. Mamaku berusaha menanyakan pada kepala sekolah gw untuk memasukkan gw ke kelas IPA. Bersama dengan beberapa anak lain, kita diberi kesempatan lagi. Sebuah ujian akan dilakukan untuk menyaring kita dan tiga nilai teratas akan dimasukkan dalam kelas IPA.

Keajaiban tidak datang dua kali.

Keajaiban yang dulu menyelamatkan hidupku kala SMP, tidak terjadi lagi. Dari tiga nilai teratas, gw berada di peringkat keempat, dan hanya berselisih satu nilai dengan peringkat dua dan tiga yang mendapatkan nilai imbang. Segala usaha nyokap gw untuk meminta sang kepala sekolah mempertimbangkan gw ditolak… dan itulah akhir nasib gw di SMU Regina Pacis.

Kasus yang terjadi kemudian membuat heboh generasi SMU Regina Pacis jaman itu. Nyokap gw dengan ‘berani‘nya mencabut dan mengeluarkan gw dari SMU itu. Gw dipindahkan ke SMU lain - tanpa peduli rengekan gw yang memohon supaya gw dibiarkan saja bersekolah di kelas IPS.

Pertimbanganku waktu itu: seandainya pun aku engga masuk ke kelas IPA, setidaknya kalau aku ada di SMU yang sama, teman-temanku masih akan mau bermain denganku.
Pertimbangan mamaku waktu itu: seandainya aku nekat masuk ke IPS, maka aku engga akan bisa masuk ke Binus yang di kala itu mengharuskan anak dari IPA untuk mendaftar masuk ke kelas Teknik Informatika.

Satu tahun terakhir di SMU baru itu kujalani hampir tanpa perasaan. Aku punya teman di sekolah itu, tetapi aku sudah putus kontak dengan semuanya begitu aku lulus. Dua prestasi yang kucatatkan di saat itu (meraih beasiswa untuk pergi ke Hogeschool van Holland Belanda, dan masuk koran untuk nilai TOEFL 619 –> seriously, yang kedua ini memalukan. Irine dan Hasina aja meraih nilai perfect buat TOEFL dan ga harus dimasukkan ke koran… >_>;;;) tidak membuat rasa maluku karena menjadi ‘bekas‘ dan bukannya ‘alumni‘ SMU Regina Pacis pudar.

Toh, walaupun demikian aku bersyukur bahwa pada akhirnya aku menuruti keinginan mamaku memaksaku masuk ke dalam kelas IPA walau harus mencabutku dari SMU Regina Pacis. Kendati menimbulkan aib bagiku, tetapi itu aib yang dengan rela kujalani karena tanpa aib itu, aku tidak akan pernah bertemu dengan teman-teman di Binus Inter.

Sahabat-sahabat yang nantinya menarikku keluar dari kegelapan dan membawaku menuju terang.

The Dark Past (Part 2a of 3)

Part 2: The Dark Night

The night is darkest before dawn
- Harvey Dent, The Dark Knight

Ketika gw pertama kali masuk ke SMU. Gw merasa bahwa inilah awal yang baru buat gw. Ada sedikit perasaan sedih di hati gw karena gw akan terpisah dari teman-teman lama gw di SMP… tetapi sebaliknya gw memang ingin meninggalkan SMP yang telah memberikanku begitu banyak kenangan buruk itu. Gw masuk ke SMU dengan sebuah rasa percaya diri yang tinggi. Gw merasa kalau dengan NEM gw, gw bisa melakukan apapun. Memang NEM gw bukan super tinggi (nilai rata-rata gw hanya sekitar 7.5 dan hanya tergolong rata-rata dibandingkan dengan anak-anak lain), tetapi menurut gw saat itu, NEM SMP itu membuktikan bahwa kalau gw berusaha, gw pasti bisa melakukannya…

Gw bertemu dengan teman-teman baru di jaman SMU ini. Yang pertama menjadi gerbangku ke teman-teman lain adalah Christian. Sosok yang duduk di sebelahku ini kemudian mengajakku untuk berkenalan dengan teman-temannya masa SMP dulu. Dari sana, dimulailah perkenalanku dengan Didit, Andrew, dan banyak lagi anak-anak SMP-nya Christian dulu lainnya. Maklum, SMPku dulu termasuk SMP kecil yang hanya memiliki dua kelas… berbeda dengan SMP lain yang rata-rata lebih besar dan memiliki 8 kelas bahkan 10 kelas.

Pasalnya, dari sifat gw yang suka bohong itu, lagi-lagi gw engga bisa mengubahnya. Latar belakangnya begini, di saat NEM SMP gw keluar, nyokap gw sangat senang dengan nilai itu dan membelikan gw sebuah mesin Sony Playstation. Yang tak disangka oleh nyokap gw adalah mata gw ketika itu sudah mengalami minus yang sangat tinggi (7 di saat masuk SMU). Nyokap gw begitu tahu hal itu jelas melarang gw memainkan Playstation gw. Yang tidak nyokap gw mengerti saat itu adalah Playstation adalah bahan pembicaraan favorit setiap teman-teman gw di saat itu. Membicarakan dan mengobrolkan mengenai game RPG selama berjam-jam - apalagi berhasil menyelesaikan game-game RPG yang sulit dan terkenal membuat orang itu bisa mendapatkan pengakuan dari teman-temannya.

Gw yang tidak bisa memainkan PS gw jelas tertinggal dan kesulitan mengikuti pembicaraan teman-teman gw. Walhasil, gw sekali lagi mengeluarkan ‘bakat bohong‘ gw untuk bisa tetap berbincang-bincang dengan mereka. Gw mengecek majalah game, mengobrol dengan banyak orang, membuka situs-situs di internet untuk tahu mengenai masalah game dan bisa membual kepada mereka bahwa ‘aku juga sudah pernah menamatkan game ini lo‘. Perlahan-lahan, apa yang dirasa oleh teman-temanku sebagai hal yang lucu berubah menjadi hal yang menyebalkan. Gw pun mulai dijuluki tukang koya (tukang ngibul) dan dihindari oleh teman-teman gw.

Puncaknya, secara tidak langsung dalam pembicaraan game gw dibenci oleh teman gw. Suatu hari, ketika salah satu teman gw gw ajak ngobrol mengenai game dia engga menjawab pertanyaanku. Ketika gw desak lebih jauh mengenai kenapa dia tidak mau menjawab pertanyaanku, ia berkata kepadaku: “Sori… kita udah janjian ga mau ceritain lagi soal game kepadamu… Soalnya kalau kamu kita ceritain, nanti kamu claim sebagai dirimu sendiri yang menamatkan game itu…

Hari itu aku pulang sekolah dengan menahan tangis. Ketika gw menangis di kamar gw - nyokap gw masuk dan keheranan melihat gw menangis sehingga menanyakan kepadaku alasan mengapa aku menangis. Aku bertanya kepadanya sambil sesunggukan:

Ma, walaupun aku dikelilingi oleh orang-orang yang kuanggap sebagai temanku, kenapa aku merasa begitu sendiri?

Pelarianku ironisnya di saat itu bukan pada bidang pelajaran (bukan makin giat belajar), tetapi pada bidang tulis menulis cerita. Gw mengarang cerita ‘Legend of Edenia‘ bertokoh utamakan gw dengan teman-teman gw. Gw tidak lagi memperhatikan pelajaran tetapi menuliskan cerita petualangan dengan gw sebagai sang tokoh utama. Gw makin gila-gilaan menulis cerita sampai-sampai pernah gw menulis hampir satu buku tulis dalam waktu dua hari! Imbasnya jelas; nilai gw turun dan kacau balau di tahun kedua SMUku.

Gw yang di tahun pertama selalu bertahan di 10 besar, nilainya hancur total di tahun kedua. Nilai total IPA gw hanya mencapai 24 di semester pertama. Padahal nilai total dari satu tahun untuk masuk ke kelas 3IPA adalah 78 (rata-rata 26 tiap caturwulannya). Ditambah lagi hobi menulis gw dianggap ‘aneh‘ oleh kebanyakan orang. Yang tidak banyak diketahui orang adalah gw menulis di saat itu untuk menciptakan sebuah lingkungan di mana gw bisa diterima. Oleh karena itu kisah ‘Legend of Edenia‘ gw selalu memuat karakter-karakter gw dan teman-teman gw. Gw beranggapan bahwa dengan cerita itu, gw menutupi diri dari kenyataan di mana perlahan-lahan gw sudah mulai dikucilkan oleh teman-teman gw, bukannya mengubah diri gw malahan membuat sebuah ilusi di mana gw masih diterima oleh teman-teman gw.

Ketika nyokap gw tahu bahwa menulis cerita adalah hal yang membuat nilai gw jatuh, ia dengan murkanya merobek semua buku tulisan gw itu. Gw menangis mendekapi satu demi satu buku itu. Perasaanku saat itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Seakan-akan di saat itu ilusi di mana gw diterima oleh teman-temanku dirobek oleh nyokap gw satu demi satu. Yang tersisa dari lima buku yang kutulis hanyalah satu yang kudekapi erat-erat sambil berlinangan air mata. Gw berusaha menulis ulang cerita gw dari dasar lagi, tetapi dasar sial, baru menulis setengah buku pertama, guru Akuntansi gw merebut buku itu dan membaca cerita itu di depan seluruh kelas.

Dennis menghindari serangan monster itu. Ia lantas membalas serangan monster itu dan menebasnya…
BWAHAHAHAHAHAHAHA

Seluruh kelas menertawakan gw. Dan di saat itu gw rasanya ingin menghilang saja saking malunya.

Rumble Roses Fan-Vid

Rumble Roses - Close to You

Never realized that this sexy game can also have a touching story if done right!

The Dark Past (Part 1 of 3)

Part 1: SMP Years

Emangnya kenapa sih Nis kok lu kayanya sedih melulu kalau mau pulang ke Solo?

Pertanyaan ini muncul di layar MSN gw ketika gw tengah sibuk berkeluh-kesah mengenai kepulangan gw ke Solo. Dan membaca pertanyaan itu gw terdiam sejenak.

Bukan rahasia kalau semenjak beberapa tahun terakhir gw selalu menyebutkan bahwa rumah gw sejatinya ada di Jakarta dan Singapore. Home is where my friends are. Itu yang selalu kukatakan.

Lantas, mengapa kamu tak merasa rumah di Solo?‘ tanya temanku lagi ketika gw menjelaskan hal itu kepadanya ‘Apa kamu tidak punya teman di Solo?

Dalam hati kala itu, aku menjawab ‘Tidak. In Solo, I am a nobody…

* * *

Well, sebenarnya pernyataan bahwa di Solo gw adalah seorang nobody itu tidak benar juga sih. Sebaliknya, kalau gw di Solo, mungkin gw sebenarnya lebih dikenal ketimbang gw yang di Jakarta.

Sayangnya, gw bukan dikenal karena prestasi, atau karena sifat positif gw. Gw lebih banyak dikenal di Solo sebagai ‘cucu orang berada di Solo yang manja, troublemaker, dan sedikit / sangat goblok‘. Itulah stereotipe yang melekat pada gw selama bertahun-tahun kehidupan gw di Solo. Dan sebelum kalian berpikir yang tidak-tidak… no, bukan orang Solo yang salah menilai gw. Gw memang orang seperti itu selama kehidupan gw di Solo.

Ketika gw SMP dulu, kehidupan gw benar-benar kacau balau. Nilai gw selalu paling rendah di kelas karena gw engga pernah mau belajar sama sekali. Buat gw, pelajaran di sekolah yang menarik hanyalah pelajaran sejarah karena sifatnya yang mirip seperti buku cerita. Gw asyik melahap buku-buku sejarah, menghafalkan perang dan pahlawan Indonesia… tetapi gw tidak pernah memperhatikan pelajaran lain. Nilai gw pun merosot dan gw menjadi langganan posisi peringkat paling bawah di kelas.

Saking malunya nyokap gw, ketika ia datang setiap kali pengambilan raport, ia pasti datang paling terakhir atau paling pagi untuk menghindari bertemu dengan orang tua lainnya. Maklum, kalau orang tua lainnya sampai bertemu kan pasti saling bertanya “gimana nilai anaknya?” Mau jawab apa nyokap gw? “Anak gw paling dungu di kelas” Masa begitu jawabnya? Yang lebih ironis lagi, nyokap gw kerjaannya juga dipanggil keluar masuk sekolah karena gw sering menyembunyikan nilai ulangan gw. Gw memang engga pernah nyontek (that’s something I’m proud of), tetapi begitu nilai gw keluar dengan hasil merah terbakar semua gw selalu menyembunyikan atau menandatanganinya sendiri dengan meniru tanda tangan nyokap gw (that’s something I’m NOT proud of).

Kejadian yang sama terus berulang-ulang sampai pada puncaknya di kelas 3 SMP. Ketika itu, gw dikucilkan oleh hampir seluruh anak di kelas gw kecuali oleh satu gang gw (Natalia, Tanti, Christian C, Santhi, dan Clarissa). Gw dianggap pembangkang, bandel, dan semua guru di sekolah nampaknya sudah lepas harapan dengan gw. Gw bahkan dimasukkan dalam kategori membahayakan sekolah karena gw memiliki kemungkinan engga lulus di EBTANAS yang jelas bisa mencoreng nama sekolah gw (yang adalah salah satu sekolah terbaik di Solo - kalau bukan yang terbaik).

Puncak dari puncaknya terjadi empat bulan sebelum EBTANAS. Ketika itu gw yang kebingungan karena nilai gw terbakar semua memutuskan untuk ‘membuat ulangan sendiri‘. Gw membuat soal ulangan sendiri, mengerjakannya sendiri, menilainya sendiri, lantas memberikannya kepada nyokap gw. Ketika kasus ini ketahuan oleh sekolah, luar biasa marahnya kepala sekolah dan seluruh instansi sekolah kepada gw. Kepala sekolah yang adalah temannya bibi gw memanggil nyokap gw ke sekolah dan mengatakan kepadanya bahwa “Karena memandang keluarga anda, Dennis akan diberi kesempatan sekali lagi. Tapi satu saja kekacauan yang digarap oleh Dennis lagi. Tidak ada ampun. Ia akan dikeluarkan dari sekolah“.

Pulangnya gw siap dihajar oleh nyokap gw, siap dimaki oleh nyokap gw. Tubuh gw sudah kebal rotan dan sabetan penggaris. Makian juga siap mampir di telinga dan hati gw yang udah gw kebalkan. Toh gw juga sering dicela goblok oleh teman-teman gw. Dicela ama nyokap gw sendiri apa salahnya? Tetapi anehnya nyokap gw sama sekali engga marah saat itu. Ia cuma menangis dan berkata

Mulai hari ini mama ga mau ngurus kamu lagi. Kalau kamu memang keluar sekolah, ya keluar sana. Mama sudah ga mau tahu lagi.” lantas nyokap gw menutup pintu kamarnya dan sesunggukan di dalam sana.

Di hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup gw, gw merasa gw gagal menjadi anak yang baik buat nyokap gw.

Empat bulan terakhir, gw berjanji kepada diri gw sendiri. Gw akan berubah. Karena gw yang tolol ini ga akan pernah mendapatkan respek dari siapapun. Gw harus menjadi pintar untuk mendapatkan rasa hormat dari seseorang. Dan gw mati-matian belajar.

Ternyata… otak gw mungkin tidak sedungu yang gw kira sebelumnya. Setelah berjuang mati-matian selama empat bulan, gw berhasil mendapatkan perbaikan di ujicoba EBTANAS pertama. Nilai gw naik menjadi 42 (dari enam pelajaran saat itu) dan menduduki ranking 21. Semua teman gw terbelalak mengira Dennis ketika itu pasti kena keberuntungan. Ketika gw mampu memperbaiki nilai gw menjadi 43 di ujicoba kedua (serta masuk menjadi peringkat 16) barulah teman-teman gw sadar bahwa Dennis mungkin tidak seidiot yang mereka kira sebelumnya.

Pada akhirnya, gw berhasil menorehkan nilai 44.75 pada EBTANAS gw dan menduduki urutan ke 12 di sekolah gw. Untuk pertama kalinya, nyokap gw berani datang ke sekolah dan bercanda bersama para orang tua yang lain. Ada sebersit rasa bangga di hatiku saat itu. Ternyata membuat mama gw tersenyum bangga kepada gw mungkin merupakan bakti terbesar yang bisa gw lakukan kepadanya!

Masa SMPku selesai. Gw merasa sedih karena walau gw bisa mengakhirinya dengan gemilang, nama gw sudah terlanjur buruk di sana. Gw ingin kalau hari-hari gw nanti di SMU akan lebih sukses daripada sekarang. Gw ingin merajut masa-masa kenangan yang manis di SMU nanti… yang bisa gw ceritakan dengan bangga kepada teman sampai anak cucu gw di masa mendatang.

Tetapi impian itu tinggal impian, karena masa SMU gw adalah masa yang nantinya menjadi salah satu masa paling suram dalam kehidupan gw…

A Question for Myself

Ketika gw chatting dengan Ari beberapa hari yang lalu, I found out that she just broke up with his new boyfriend. Untuk menghiburnya; gw mengirimkan sebuah sms berisikan kata-kata yang kurang lebih berarti:

“Kalau seseorang sungguh mencintaimu, ia takkan membuatmu menangis. Ia sekarang sudah membuatmu menangis dan merasa begitu kehilangan. Apa pantas disebutkan bahwa ia mencintaimu?”

Lantas jawaban dari Ari membuat gw terbingung-bingung akan pendapat gw sendiri. Jawabannya panjang lebar, tetapi juga menyentuh di mata gw. I can understand her pain (tentunya, since I am one of her closest friend - plus husband - plus little brother merged into one).

“i agree.. more specifically, i think if you really love someone, you can’t let her / him go.. you can’t stand to be on your own for you’re a ‘2′ and not ‘1′ anymore.. true love is like a deep knot you can’t untie. for if you solve it, it’s like you kill a part of yourself.. that’s how i felt: incomplete, missing a part of me, cause i already gave him my heart and soul. and now i sorta lost them. my dear friend, grow, learn, live, love! i’m with you…”

‘Heh’ I think to myself ‘Khas Ari banget. Even in her saddest moment, she can still lend me her strength’.

Membaca sms itu, aku tertegun sejenak dan memikirkan gadis-gadis yang dulunya pernah kusukai. Mulai dari A, B, C, D… sampai Z (maaf, pakai sandi semua, beberapa cewe itu soalnya masih ada yang ga tahu kalau dulu pernah kusukai dan sekarang celakanya udah jadi teman baik gw… ^^;;;) But I let all of them go… bahkan Mira pun begitu. Apa itu artinya gw kurang berjuang dan kurang mencintai mereka?

Hectic Days

Beberapa hari ini… ada begitu banyak yang sebenarnya pengen diketik… yet I’m so mad that gw ga bisa mengetik karena ga ada waktu…

Uhh… capeknya…

* kembali beristirahat karena kelelahan…

Balada Dennis Pulang Indo

Setelah sampai ke Indonesia, gw mengontak nyokap gw dan mengatakan kalau tidak ada pesawat sore lagi yang menuju ke Jogja ataupun Solo - sehingga tidak memungkinkan buat gw melakukan direct flight. Gw berencana untuk pulang terlebih dahulu ke rumah gw di Muara Karang - memesan tiket di travel agent keesokan harinya dan pulang ke Solo lusa atau tiga hari kemudian. Nyokap gw mengiya-iyakan saja karena kebetulan ia masih sibuk dengan kerjaannya.

Ketika gw sampai di rumah gw, gw bengong melihat kunci yang gw bawa dari sini empat bulan yang lalu tidak bisa membuka rumah gw. Ternyata kunci gembok rumah gw diganti… tanpa diberitahukan kepada gw. Gw terbengong-bengong sejenak di depan rumah gw, lantas menelepon nyokap gw lagi (yang mendadak juga baru ngeh "Oh ya! Benar juga ya mama ganti gembok rumah!"). Hasilnya, gw yang cukup capek ini terpaksa naik taksi lagi (sambil menyeret tiga buah koper) untuk pergi naik Travel ke daerah Bandung sana.

Nyokap gw biasanya naik Cipaganti Travel. Salah satu Travel yang terpercaya di Bandung, tapi dasar apes, di saat itu sang supir taksi tidak tahu Cipaganti Travel di mana. Walhasil, dibawalah gw ke travel bernama Papandayan Travel yang ‘konon’ lebih murah dan mengantar sampai ke tempat tujuan (Cipaganti Travel mendrop kita di tempat drop spot). Dengan biaya 90.000 yang gw anggap masuk akal (mengingat bensin sudah naik), meluncurlah gw dengan Papandayan Travel.

Everything went well. Gw pergi dengan dua orang lain (semobil berempat bersama supir). Well, everything went well sampai satu orang turun. Sialnya, bapak yang tersisa itu ribut bukan main. Begitu bapak lainnya turun dia langsung berkomentar kepada sang supir

"Wah, parah benar itu orang rumahnya masuk-masuk dalam gang. Bikin repot aja"
pikir gw saat itu di hati "emang lu yang nyupirin sampai lu ngerasa repot?"

Setelah satu orang turun, gw yang memang buta Bandung (dua orang selain gw itu orang Bandung), hanya memberitahukan alamat gw kepada sang supir.

"Jalan XXX No. XXX… Daerah XXX, Bagian XXX… Tahu ga itu di mana pak?" tanyaku kepada sang supir.
"Beres bos!" sahut sang supir.

Tapi sayangnya dia engga tahu jalan. Entah daerah rumah gw yang susah dicari atau bagaimana, yang jelas si supir malahan pakai acara tersesat. Si bapak yang satu ini mulai kesal dan mulai ngomong

"Wah yang ini lebih parah lagi, lebih susah dicari lagi rumahnya"

Gw bete tapi diam aja, lantas gw terpaksa menelepon ke paman gw di Bandung yang menjelaskan kepada sang supir mengenai bagaimana untuk bisa sampai ke daerah rumah gw di Bandung. Hasilnya? Nihil. Gagal. Total. Di saat gw yang sudah lelah ini bete (bete mikirin itu supir bego amat nyari rumah ga ketemu-temu), penumpang yang satunya makin bertingkah dan makin cerewet.

Ketika sang supir turun untuk bertanya-tanya jalan kesekian kalinya (bagaimana ia tidak mengerti-ngerti ke mana ia seharusnya pergi juga membuat saya bingung), mendadak si bapak itu berkata kepada saya dengan suara kasar

"Dik, seharusnya itu kamu yang turun sana buat tanya-tanya! Kan kamu yang mau pulang ke rumah itu"

Gw lelah. Pagi tadi gw masih sibuk bermain I’m the Boss, Siangnya lari-lari ngejar pesawat sambil ke sana-sini angkat koper, Sorenya gw harus menemukan diri gw kekancingan di depan rumah gw sendiri (jaminan Sasa bakalan ngakak seperti kata Icha), dan apakah di Malam hari gw harus menerima perlakuan ga sopan dari seorang bapak-bapak?

"Pak!" balas gw kesal "Saya ini bukan orang Bandung. Bapak sendiri ngomong udah di Bandung 15 tahun (gw mendengar ini sepanjang rumpiannya di jalan bersama pak Supir di tol Jakarta - Bandung), sana gih Bapak yang turun bantuin tuh pak Supir tanya-tanya."
"Adik ini kurang ajar ya!" balas si bapak kesal "Kalau ga tahu jalan lain kali jangan naik travel."

Dua tahun yang lalu, gw mungkin kecut kalau dibegitukan oleh orang - apalagi orang yang sudah berumur dan sudah malam-malam hari begini (mom always teach me not to mess around with ‘these’ kind of people) - but gw yang sekarang datang dari China yang orangnya 5 kali lipat kasarnya orang sini. Dan gw sudah kenyang berantem bolak-balik ama orang China.

"Bapak yang goblok!" balas gw setengah berteriak "kalau saya tahu jalan NGAPAIN saya naik travel?"

Pada akhirnya sang supir bengong sendiri ketika naik mobil mendengar teriakan gw. Beberapa menit kemudian, sekali lagi si supir turun (tanya jalan - again) dan si bapak ngomong dengan kasar ke gw

"Kamu minta dijemput sana aja. Dicariin kok ga ketemu-temu rumahnya" katanya lagi dengan kasar.
"Bapak aja sana turun minta dijemput. Jangan banyak bacot melulu pak" balas gw dengan lebih kasar lagi.

Dan setelah itu bapak itu diam seribu bahasa sampai gw sampai di depan rumah gw (setelah dicari oleh sang supir yang hampir makan waktu 45 menit). Ketika gw turun gw masih mengatai sang bapak.

"Pak, lain kali itu kalau naik travel jangan banyak bacot. Bagus saya masih sabar. Kalau sama orang lain, bapak digampar baru kapok"

Si bapak diam seribu bahasa.
Dan gw banting pintu mobil sekencang-kencangnya.

Sang supir memohon-mohon maaf kepada gw. I don’t care. Dan gw tambahin ke si supir

"Pak, lain kali cari penumpang jangan yang banyak bacot. Bikin pusing."

"Whew" pikir gw sambil tersenyum kecil setelah mobil itu melaju pergi "I guess belajar kasar dikit berguna juga setelah dari China"

Older Posts »